Oleh: Musyafa Ahmad Rahim
(Ketua Kaderisasi DPP PKS)
Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Al-Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – keluar dari rumahnya menuju Masjid Nabawi.
Beliau mendapati berbagai macam orang yang melakukan qiyam Ramadhan:
- Ada yang melakukan qiyam sendirian,
- Ada yang melakukannya berduaan,
- Ada yang melakukannya dalam kelompok yang lebih besar dari itu.
Melihat keadaan yang demikian, maka amirul mukminin Umar –radhiyallahu ‘anhu– lalu menginstruksikan tiga hal:
1. Agar semua yang melakukan qiyam dalam banyak jamaah itu disatukan
dalam satu jamaah dengan satu imam, dan ditunjuklah Ubay bin Ka’ab –
radhiyallahu ‘anhu – sebagai imam, sebab beliau lah yang telah
mendapatkan licence dari Rasulullah SAW sebagai Aqraukum, umat nabi yang
paling bagus Qur’annya.
2. Memajukan waktu pelaksanaannya menjadi setelah shalat Isya’, di mana
biasanya, dilakukan setelah tengah malam atau pada sepertiga malam yang
terakhir.
3. Memperpendek tempo waktu pada setiap rakaatnya, di mana pada
sebelumnya, tempo waktu rakaat sangat lama, atau istilahnya: “jangan
tanyakan lama dan bagusnya”, karena memang
luamma dan
buagus. Sebagai kompensasi atas “pemendekan” tempo waktu rakaat , maka jumlah rakaat-nya diperbanyak.
Terkait dengan 3 hal ini, amirul mukminin Umar bin Khaththab – radhiyallahu ‘anhu – berkata:
“ni’mal bid’atu hadzihi” sebaik-baik bid’ah adalah hal ini.
*dakwatuna